#

Cerita di Balik Sajian

Berbicara mengenai kulinari, adalah hal yang selalu berkembang sesuai dengan tuntutan dari pasarnya. Ribuan tahun lalu, daging hewan dikonsumsi langsung tanpa diproses. Namun sekarang kita akan menemukan ratusan bahkan ribuan nama sajian dari daging dengan aneka rasa. Selain eksplorasi sajian lewat rasa dan cara penyajian, tempat dan suasana pun tidak luput dari “evolusi”. Dulu mungkin tidak pernah terbayang bahwa manusia bisa berada ratusan meter di atas tanah hanya untuk menikmati makan malam. Sekarang berlayar bermil-mil pun disempatkan hanya untuk pesta barbeque di pulau terpencil.

Dari tengah laut sampai ke lereng gunung, tepian sungai sampai tengah belantara, bahkan dari tepian trotoarsampai puncak pencakar langit, tak satupun luput dari eksplorasi pengadaan sebuah tempat makan. Walaupun ujung-ujungnya adalah bisnis, namun ada hal yang menarik dalam perkembangan tersebut. Berbagai resto berlomba untuk menawarkan keunikan serta kekhasan tempat usahanya. Konsumen terus-menerus ditantang untuk bisa menghargai selera jauh di atas perut. Hasilnya, banyak yang mulai memberanikan diri, keluar dari ruang makan rumahan untuk mencoba resto-resto beratap langit.

Seperti halnya Clarke Quay, yang berlokasi di sepanjang tepian sungai Singapura, telah berkembang menjadi sebuah obyek wisata kulinari yang wajib dikunjungi. Sedikitnya terdapat 14 restoran berkelas internasional di Clarke Quay. Mulai dari Restoran The Forbidden City, Peony Jade, Coriander Leaf, Quayside Seafood, Fish Tales dengan cita rasa hidangan laut dan masakan Asia, sampai pada Tapas Tree dengan cita rasa Spanyol, Renn Thai yang menghidangkan masakan Thailand, dan Via Veneto yang bercita rasa Italia. Namun semua sajian tersebut akan terasa menjadi pelengkap, saat anda menikmati indahnya tepian Sungai Singapura yang semarak dengan warna warni kanopi resto serta gemerlap lampu gedung di seberang sungai.

Bandingkan dengan sebuah resto yang dibatasi kungkungan tembok diseputar anda, hanya punggung tamu diseberang yang nampak, tidak ada view menarik yang bisa menemani setiap kunyahan. Lezat di mulut masih mungkin, tapi anda akan akan kesulitan menelannya karena suasana yang kurang mendukung untuk bersantap. Dan yang paling menjengkelkan anda telah mengorbankan satu jam perjalanan menuju ke sana.

Akses terhadap bahan baku atau pasar memang menjadi salah satu pertimbangan didirikannya sebuah tempat makan. Sepanjang Singapore River dikembangkan Clarke Quay berdasarkan ketersediaan bahan dasar yang akan disajikan sebagai pilihan menu. Lain halnya restoran yang biasanya terletak diatas puncak pencakar langit, selain memanfaatkan view cityscape yang eksotik, prioritas konsumen yang dibidik tentunya juga didasarkan pada jarak pencapaian, orang-orang yang bekerja di gedung itu sendiri. Ibarat ponsel yang perlu di recharge setelah seharian standby, akhirnya makan juga menjadi ritual “recharge” bagi tiap orang, baik secara fisiologis maupun psikologis.

Masih banyak tempat seperti Clarke Quay, dan masing-masing masih berusaha mengunggulkan potensi geografisnya sebagai nilai lebih dalam bisnis kulinari. Akhirnya bersantap bisa jadi bukan hanya masalah sajian yang lezat, namun juga masalah tempat dan suasana yang bercita rasa tinggi. Sehingga bukan hanya rasa yang akan terbekas di lidah anda, tapi juga kesan yang tertanam di hati. Sebuah cerita di balik sajian…